Kisah Sofia

Namaku Sofia, dulu aku adalah gadis yang ceria dan punya banyak teman. Mereka menyenangkan, dan aku juga bahagia berada di tengah mereka. Kata mereka, aku adalah teman yang sangat baik dan selalu ada di saat mereka membutuhkan. Baik suka maupun duka. Tak heran kalau banyak juga yang sangat baik dan sayang padaku.

Setidaknya, hari-hariku sangat bahagia sebelum ada nama itu muncul. Sebelum nama itu mengacaukan hidupku, dan membuat semua orang yang sayang padaku berubah memusuhiku...

***

"Aku Gerry," katanya sambil mengulurkan tangan dan menjabatku dengan hangat. Kami berkenalan di sebuah cafe sore itu. Aku sendiri sedang menghabiskan waktu saja, menunggu hujan agak reda sambil menikmati secangkir hot chocolate. Lantas ia mendadak berdiri di depanku dengan sopan mengulurkan tangannya.

Sepanjang sore kemudian ia menemaniku hingga hujan benar-benar reda. Namun karena kami masih asyik ngobrol, aku sudah tak peduli lagi apakah di luar sana hujan masih turun atau tidak. Aku larut dalam kehangatan kepribadiannya dan canda tawa kami yang seperti sudah kenal 10 tahun lamanya.

"Kapan kita bisa ketemu lagi?"

"Hmmm... entahlah. Mungkin kalau memang ditakdirkan nunggu hujan lagi kita bakalan ketemu," candaku.

"Ah, kelamaan. Siniin dan handphone kamu..." Diambilnya handphoneku dari tanganku. Disimpannya nomernya di sana, dan kemudian juga di dalam ponselnya. Aku hanya ternganga. Jarang kutemui pria yang spontan dan penuh percaya diri sepertinya.

"Ah... eumm.. ok deh see you next time," ujarku tersipu. Akupun melangkah pergi dan berpura-pura sedang terburu-buru. Aku kalah 1-0. Aku belum pernah menemukan pria yang bisa mengimbangiku seperti ini.

***

"Sudah belum?" tanyaku. Mataku ditutup dengan secarik kain sedari tadi. Membuatku bertanya-tanya, ke mana sih Gerry membawaku. Aku tak sabar dengan apa yang akan disiapkannya hari itu.

"Sabar dong ah... keburu-buru amat. Sebentar lagi kita sampai," sambil tertawa ia membuatku makin penasaran.

Dan ternyata kami tiba di sebuah lokasi. Cukup tenang karena sepertinya tak banyak orang di sana. Yang kudengar adalah alunan lagu romantis dengan aroma cokelat pekat mengelilingi ruangan. "Nah sekarang kamu boleh membuka mata kamu..."

Aku tersipu (lagi). Aku berada di cafe pertama kali kami bertemu 4 bulan yang lalu. Dan di tempat yang sama ini, sengaja ia persiapkan dengan manis. Semua tempat dihiasi bunga, balon dan juga hanya ada kami berdua serta beberapa pegawai cafe saja.

"Kamu gila," aku tertawa dan wajahku mulai memerah. Dan seperti dugaanku, kemudian ia berlutut mengucapkan cinta padaku. Memintaku untuk menjadi kekasihnya.

"Iya, aku mau..." kataku waktu itu.

***

Semenjak pertemuanku dengan Gerry, aku nyaris selalu menghabiskan waktuku setiap hari dengannya. Aku lupa akan janji-janji yang kubuat dengan sahabat-sahabatku. Sampai mereka cukup hapal bahwa janjiku akan kulewatkan lagi.

Dan kali ini adalah ulang tahun sahabatku, Via. Yang mana biasanya aku selalu menyiapkan kejutan untuknya.

"Ke mana kamu kemarin?" tanya Sari.

"Eh, kenapa Sar? Kamu nyari aku?"

"Ada apa sih dengan kamu? Sejak kamu dengan Gerry kamu melupakan banyak hal yang penting. Ulang tahun Via kemarin rasanya garing dan dia kecewa karena kamu melupakannya. Kamu berubah banget Sof," kata Sari lagi.

"Oh, maaf yang itu. Nanti aku akan mencarikan kado untuknya sebagai tebusan penyesalanku..."

"Aku nggak perlu kado darimu Sof. Aku nggak matre. Aku cuma pengen kamu hadir aja sebagai sahabat, seperti biasanya. Dan itu cukup untukku!" mendadak suara Via mengagetkanku. Aku tersadar, aku melewatkan hari penting yang bagi sahabatku. Namun kemudian, aku melangkah pergi saat merasa permintaan maafku tidak ditanggapi.

***

"Kamu ke mana sih? PING!!" pesanku tak kunjung dibalas oleh Gerry. Sudah sejak semalaman ia menghilang tak membalas satupun pesanku. Dan hal itu sebenarnya sudah terjadi berulang sejak minggu lalu. Ia sering menghilang atau membalas pesanku sangat lama. Katanya sih ia sibuk, tetapi apa iya dia sesibuk itu?

Aku ingin kamu berkemas dan kita berlibur. Maaf ya aku sangat sibuk belakangan ini. Makanya aku pengen nebus kesalahanku dengan ngajak kamu berlibur 3 hari aja kok - Gerry

Tak lama kemudian pesanku dibalas dengan hal yang membuatku tersipu. Tak berpikir panjang aku berkemas. Dan bahkan aku berbohong pada kedua orang tuaku akan hal ini. Aku tak ingin mereka melarangku pergi dengan kekasihku.

"Kita ke mana?"

"Ke pulau seribu. Kamu pasti senang, kita bisa diving, main di pantai, dinner romantis, menikmati matahari terbenam..." katanya santai dan hangat seperti biasanya. Aku semakin bersemangat. Aku salah telah mencurigainya kemarin, ternyata ia memang sibuk.

Sesampainya di cottage aku diantar ke kamar cottage. Sebuah kamar yang manis di tepi pantai, jauh dari keramaian. Hanya akan ada aku dan Gerry saja di sana. Dan langkahku terhenti setelah masuk ke dalam kamar.

"Kenapa ranjangnya cuma ada satu?"

"Memangnya kamu mau tidur terpisah dari aku?" kata Gerry santai seolah tak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya. Ia kemudian segera berganti pakaian dan menggandeng tanganku ke pantai.

Aku masih terdiam. Bagaimana nanti malam ya? Hmmm... semoga bukan kejadian seperti itu yang kubayangkan.

***

"Kamu kenapa?" kata Gerry lembut sambil menyentuh pipiku. "Takut?" tanyanya lagi. Ia kemudian memelukku hangat dan mencoba menenangkan aku. Ia meyakinkan bahwa ia sangat mencintai dan menyayangiku. Sampai akhirnya apa yang kutakutkan benar-benar terjadi malam itu.

Namun, demi cintaku padanya. Semua kurelakan hanya untuknya. Hanya untuk Gerry. Seorang pria yang kukenal tak lebih dari 8 bulan lamanya...

***

"Kita harus ketemu nih Ger," kataku via pesan di BBM.

"Kenapa? aku sibuk nih? Ngomong aja lah dulu di BBM, sayang," paksanya.

Mengumpulkan seluruh keberanian, kemudian aku mengatakan, "aku telat 3 minggu Ger :(" Aku berhenti mengetik dan menunggu balasannya.

Gerry: is writing a message...

Lama sekali hanya muncul pesan itu lantas mendadak kontaknya hilang dari BBku. Aku yang dari posisi bersandar di tempat tidur kemudian kaget. Aku langsung bangun dan menekan tombol nomor telpon Gerry, yang kemudian kuketahui nomor tersebut tidak bisa dihubungi. Aku kalut. Aku langsung mengambil tas dan dompet, bergegas keluar rumah ingin mencari Gerry.

Tetapi aku bingung, harus mencari Gerry ke mana? Ia sendiri jarang bercerita tentang kegiatannya. Alamat pasti tempat tinggalnya juga aku tak tahu. Lantas ke mana aku harus pergi?

Aku yang berderai air mata, memanggil taksi dan mendadak malah muncul di rumah Via.

"Viaaa... kamu harus tolongin aku Vi. Tolongin aku..." tangisku sejadi-jadinya sesampainya aku di sana. Aku kemudian malah tak jadi bercerita, namun tenggelam dalam tangisan hingga berjam-jam lamanya. Ditenangkan oleh sahabatku, akhirnya akupun bercerita satu demi satu kejadian yang menimpaku.

***

"Selamat ya bu, anaknya laki-laki," kata seorang suster padaku sambil menyerahkan sosok mungil itu di tanganku. Aku memutuskan melahirkannya, buah hatiku yang bapaknya entah menghilang ke mana.

Lewat dukungan orang tua dan sahabat-sahabatku, mereka menguatkan aku untuk tetap menjaga kehamilan dan membiarkan bayiku lahir. Kata mereka bayi ini tak berdosa, dan aku yang memang harus belajar dari kesalahanku.

"Ayahnya belum datang, bu?" tanya seorang pasien lain yang juga baru saja melahirkan. Aku hanya tersenyum mendengarkan pertanyaan itu. Aku tak bisa menjawabnya. Dalam hatiku perih tak terbendung, dan sebenarnya aku ingin sekali menangis sekeras-kerasnya bila ada yang menanyakan perihal ayah anakku.

Aku menyesal, kenapa harus dipertemukan dengan mantanku. Dia telah menghancurkan hidupku...