Putri Aryanti Haryowibowo

Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, mengaku tidak mengetahui Putri Aryanti Haryowibowo, cicit mantan Presiden Soeharto, membawa laptop saat menjalani perawatan.

"Saya tidak tahu masalah laptop di kamar pasien," kata Kepala Bidang Pelayanan Kedokteran Kepolisian RS Polri, Komisaris Besar Ibnu Hajar, saat dihubungi media massa, Sabtu 26 Maret 2011.

Menurut Ibnu, berdasarkan peraturan rumah sakit, pasien yang statusnya sebagai tahanan tidak diperbolehkan membawa fasilitas ke kamar perawatan. Pihaknya pun tidak akan memberikan perlakuan istimewa kepada cicit Soeharto itu.

Namun, Ibnu tidak dapat memastikan tindakan apa yang akan diambil mengenai keberadaan laptop di kamar perawatan Putri itu. "Tindakan kami hanya merawat kesehatan hingga pasien sehat kembali. Soal laptop, selanjutnya memberikan rekomendasi ke instansi yang mengirim pasien. Instansi tersebut adalah Reskrim Polda Metro Jaya," ujarnya.

Mengenai kesembuhan Putri, Ibnu pun masih belum dapat memastikan kapan anak Ari Sigit itu akan kembali sehat. "Tidak ada hitungan pasti karena kestabilan jiwa pasien masih dievaluasi oleh dokter jiwa secara teliti," ujarnya.

Sebelumnya, dalam pantauan media massa, diketahui Putri yang mengenakan kaos oblong terlihat menghabiskan siang dengan menyaksikan film menggunakan laptop di atas pembaringannya. Tampak seorang kerabat menemaninya.

Putri mendapat perawatan dari tiga dokter spesialis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Keluarga dari 'trah' Cendana itu ditangani dokter spesialis jiwa, spesialis syaraf dan psikolog.

Putri Aryanti Haryowibowo menjadi tersangka kasus narkoba setelah ditangkap polisi di sebuah hotel yang berada di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, pada Jumat 18 Maret 2011.

Saat itu, cicit mantan Presiden Soeharto itu dipergoki sedang asik mengkonsumsi narkoba jenis shabu bersama anggota kepolisian dari Mabes Polri berpangkat Ajun Komisaris Besar berinisial ES dan seorang bandar narkoba berinisial GN. Demikian catatan online Recehan internet tentang Putri Aryanti Haryowibowo.

0 Response to "Putri Aryanti Haryowibowo"