Dentuman sporadis dari dalam perut bumi

Dentuman sporadis dari dalam perut bumi membuat Pemerintah Kabupaten Trenggalek ekstra hati-hati.Mereka meminta agar warga meningkatkan kewaspadaan dan koordinasi dengan aparat pemerintah. Bupati Trenggalek Mulyadi WR mengaku khawatir jika dentumandentuman saat ini sebagai penanda terjadinya gempa yang lebih besar.

“Ibaratnya dalam tinju baru jab-jab kecil.Yang dikhawatirkan pada detik akhir ada pukulan straightkeras atau long hook,”ujarnya. Ia menghimbau warga untuk senantiasa waspada, karena getaran berkelanjutan rawan menimbulkan tanah longsor.Namun, tingkat kewaspadaan tersebut hendaknya jangan sampai meningkat menjadi rasa panik yang berlebihan. “Karena sementara ini yang dijelaskan pihak Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisi (BMKG),gempa di Trenggalek masih dalam kategori skala rendah,” terangnya.

Dia menambahkan akan meminta bantuan ahli vulkanologi untuk semakin memperjelas fenomena alam apa yang sebenarnya terjadi di Trenggalek.Sebab dari keterangan BMKG Tretes, Pasuruan bisa jadi analisa awal yang menyebutkan penyebab dentuman adalah gempa tektonik bisa berubah.“Ini menjadi fokus perhatian kami. Sebab dengan analisa yang tepat,kami bisa menyiapkan langkah antisipasi yang pas,”katanya. Sementara itu BM KG Tretes, Pasuruan membenarkan jika analisa awal penyebab suara gemuruh di Trenggalek bisa saja berubah. Kondisi ini tidak lepas dari pendeknya waktu observasi. Pengamatan yang dilakukan selama tiga hari (15-18 Februari 2011) di Desa Timahan, Kecamatan Kampak yang telah ditetapkan sebagai pusat gempa belum bisa menjadi kesimpulan akhir.

“Sebab waktu tiga hari yang gunakan sangat terbatas. Begitu juga dengan perlengkapannya,” ujar Kepala BMKG Tretes Petrus Demon Sili menjelaskan. Apa yang dipresentasikan BMKG dihadapan Bupati Trenggalek Mulyadi WR, Sekda Cipto Wiyono,Kepala DPRD Akbar Abbas serta Muspida Jumat (18/2) masih bersifat sementara.BMKG hanya menyatakan bahwa gempa yang berlangsung sejak akhir Januari 2011 hingga kini itu bersifat rendah. Pusat gempa pada titik kordinat 220-260 derajat (Barat-Barat Daya) dengan sebaran radius 4- 40 kilometer dari Desa Timahan hanya berkekuatan rata-rata 3,2 skala richter. Arah sebaran ini mulai Kecamatan Dongko, Pule, Suruh, Watulimo hingga Munjungan dengan dentuman terhebat pada kordinat 8.00 LS- 111.78 BT, berjarak 20,5 kilometer timur laut Desa Timahan, Kecamatan Kampak. “Dengan kekuatan 3,2 skala richter,“ terang Petrus.

Untuk sementara, Petrus berani menjamin bahwa gempa yang berlangsung secara terus menerus itu bukan stimulan (perangsang) terjadinya gempa besar. Hal itu dengan melihat ciri dari gejala alam yang ada.Gempa di wilayah Trenggalek tidak sampai mengguncangkan bangunan secara keras, apalagi sampai meruntuhkanya. Dentuman dengan interval waktu tak tentu tersebut hanya menggetarkan dinding rumah. Namun, Petrus tidak berani memastikan bahwa fenomena yang dipaparkanya menjadi sebuah kebenaran final. Sebab sejauh ini pihaknya juga belum menemukan penyebab utama terjadinya dentuman.“Keterangan yang kita berikan ini sifatnya sementara. Masih bisa berubah,” terangnya.

Idetifikasi mengenai jenis gempa termasuk sumber getaran masih bisa berubah. Termasuk apakah akan terjadi gempa yang dahsyat, Petrus tidak berani memastikan. Sebab selama ini tidak ada tekhnologi dan prediksi yang bisa membaca validasi bakal terjadi gempa susulan yang begitu tepat. “Tidak alat yang bisa memberi informasi bakal adanya gempa secara tepat pada hari dan waktunya (jam),”paparnya. BMKG juga tidak bisa meramal apakah gempa tektonik ini akan merambat ke wilayah Kabupaten Pacitan, Malang hingga Banyuwangi?. Hal itu mengingat secara topografi, semua daerah tersebut (termasuk Trenggalek) berada di persilangan lempeng India-Australia, lempeng Eurasi dan lempeng Pasifik yang berisiko rawan digoyang gempa.

Untuk alasan itu, Petrus meminta waktu minimal tujuh hari untuk melakukan penelitian lanjutan. Selama tujuh hari ia dan timnya berjanji sanggup menemukan sebab musyabab gempa yang sampai hari ini masih meresahkan sebagian masyarakat Trenggalek tersebut. “Kami akan segera temukan kesimpulan semua penyebabnya,” pungkasnya. Seperti diketahui, mereka (warga) yang merasakan langsung getaran keras ini mayoritas penduduk yang berada di wilayah pegunungan dan pesisir selatan. Selama tiga hari di Trenggalek BMKG menemukan sebanyak 25 titik sebaran gempa yang berjarak 4-40 kilometer dari pusat gempa (Desa Timahan).

Informasi yang dihimpun SINDO, gempa yang berada di daratan ini tidak lagi dirasakan warga yang bermukim di Kecamatan Dongko, Pule, Suruh, Watulimo hingga Munjungan. Sejumlah warga di wilayah Kecamatan Gandusari dan Kecamatan Bendungan yang notabene berjarak lebih jauh lagi dari Kecamatan Kampak mengaku juga mendengarnya. Suara-suara bergema yang berada jauh di dalam tanah itu sama persis seperti yang terjadi di Kecamatan Kampak dan sekitarnya. “Ini akan terdengar lebih jelas ketika malam hari, meski pada siang hari, kalau kita serius memperhatikan sebenarnay juga terdengar, “tutur Agus salah seorang PNS di lingkungan Pemkab Trenggalek. Agus mengaku tidak tahu pasti sejak kapan getaran itu juga dirasakan warga Gandusari dan Bendungan.

Namun informasi getok tular yang didengarnya, tidak tertutup kemungkinan getaran yang berlangsung di Kecamatan Bendungan dan Gandusari terkait dengan gempa serupa di wilayah Kecamatan Ngebel, Pulung dan Pudak Kabupaten Ponorogo. BMKG telah menemukan 54 titik sebaran gempa yang berada di Kabupaten Ponorogo. Secara geografis sebagian wilayah Kabupaten Trenggalek berbatasan dengan Trenggalek. “Apakah ini terjadi perluasan gempa atau memang ini pengaruh yang ada di Ponorogo,kami tidak tahu,”papar Agus.

Sejauh ini tidak ada informasi warga yang mengungsi karena ketakutan dengan dentuman yang hingga kini masih terdengar tersebut. Apa yang dilakukan sebagai wujud kekhwatiran hanya keluar rumah.“Kami memang was-was, karena pada malam hari suaranya terdengar keras.Namun tidak ada yang sampai mengungsi, “tutur Eko Rudiyanto, 32 warga Desa Tasikmadu,Kecamatan Watulimo. Demikian catatan online Recehan internet tentang Dentuman sporadis dari dalam perut bumi.

0 Response to "Dentuman sporadis dari dalam perut bumi"