Budi Wibowo

Bagai tersambar petir di siang bolong, Budi Wibowo (32) terperanjat bukan kepalang menyaksikan Neti (20), istrinya, tergantung tak bernyawa di bawah kolong jembatan Jalan Madiun, Menteng, Senin (31/1/2011) sekitar pukul 12.00.

Budi yang berprofesi sebagai tukang tambal ban di seberang pos penjaga palang rel tidak menyangka istrinya memilih untuk mengakhiri hidupnya. ”Sekitar 10 menit sebelumnya, Neti mengatakan akan ke kolong jembatan,” ucap Budi mengisahkan pertemuan terakhir dengan istrinya.

Dia mengaku tidak punya perasaan buruk ketika Neti ke kolong jembatan karena di situlah keluarga ini biasa buang air. Maklum, mereka tidak punya rumah permanen dengan kamar mandi. "Rumah" bagi Budi adalah tenda yang digelar di belakang pos penjaga palang rel kereta, serta sebuah cekungan kecil di bawah jembatan yang dipasangi kardus untuk alas tidur. Di situlah Budi tinggal bersama Neti dan Pian (1), anak mereka.

Tambang putih yang disiapkan untuk turun ke kolong jembatan apabila ada razia ternyata malah dijadikan Neti sebagai alat untuk mengakhiri hidup.

Kejadian ini menambah panjang daftar orang yang mengakhiri hidupnya. Pada Januari 2011 saja, sedikitnya sembilan orang yang bunuh diri di wilayah Jabodetabek dan Banten.

Darah rendah Empat hari lalu, Neti sempat mengeluh sakit. Pandangannya berkunang-kunang, seperti setelah melahirkan Pian. Neti sempat berobat ke puskesmas. Obatnya dicarikan di toko obat di Pasar Rumput agar harganya lebih murah.

Walaupun sudah minum obat, Neti belum merasa baikan. Air susu Neti untuk Pian juga kian seret. Padahal, susu bubuk tidak terbeli karena mahal. Maklumlah, pendapatan Budi tidak menentu. Apabila rezeki sedang lancar, bisa saja Rp 100.000 masuk ke kantong dalam sehari. Namun, ada kalanya Rp 20.000 saja sulit didapat.

Tambal ban merupakan satu-satunya sumber pendapatan keluarga ini. Setahun lalu, seorang kawan memberikan modal untuk membuka usaha tambal ban.

Sejak itu, Budi tidak lagi berdagang keliling. ”Waktu masih jualan, saya sering dikejar-kejar petugas karena ada larangan berdagang keliling,” kata Budi. Tapi, hingga kini, tidak ada kompensasi yang diberikan Budi kepada kawannya yang memberikan modal itu.

Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia Pandu Setiawan SpKJ berpendapat, masalah yang dialami Neti bukan sekadar sakit. ”Biasanya ada masalah yang sudah lama dipendam dan puncaknya ketika yang bersangkutan memilih bunuh diri,” tutur Pandu.

Dia mengatakan, orang yang bunuh diri biasanya menyampaikan pelbagai isyarat, baik verbal maupun nonverbal sebelumnya. Hanya kepekaan orang-orang di sekitar untuk menangkap isyarat itu sebagai sesuatu yang khusus, bukan sekadar hal biasa.

Di sisi lain, ada kebutuhan untuk membuka akses luas bagi setiap orang guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Pelayanan kesehatan itu tidak hanya untuk mengobati penyakit fisik, melainkan juga penyakit psikis, seperti depresi. Pandu berharap petugas medis di tingkat puskesmas bisa mendeteksi dan memberikan pertolongan pertama bagi orang yang mengalami depresi untuk mencegah bunuh diri. demikian catatan online Recehan internet tentang Budi Wibowo.

0 Response to "Budi Wibowo"